Pengalaman Husein Qoumy, setahun Belajar di Amerika

 Jum`at, 30 Januari 2009 10:40:21 - oleh : admin
Rating: 5.5/10 (20 votes cast)
Share |

RADAR BROMO Senin 25 Februari 2008 Setahun sudah Husein Qoumy, siswa SMAN I Bangii, beiajar di Amerika Serikat (AS). Kini dia sudah pulang ke kota asalnya, Bangii Pasuruan. Bagaimana pengalamannya? SAAT dikunjungi di sekolahnya dua hari lalu, Husein Qoumy sedang mengikuti pelajaran di kelas. Kini, Husein masih duduk di kelas XII. Karena beasiswa yang didapatkannya, Husein jadi ditinggal oleh teman-teman seangkatannya. "Teman-teman saya sudah lulus semua," tutur Husein begitu menemui Radar Bromo.Keterlambatan anak sulung dari empat saudara ini memang bisa dimaklumi. Bahkan se-kolah tempatnya belajar tidak mempersoal-kannya. Mereka justru bangga, lantaran se-lama setahun kemarin Husein belajar ke negeri Paman Sam.Putra pasangan M. Ichwan Yuana dan Alo Arobiah ini berangkat ke AS dengan biaya gratis. Dia mendapatkan beasiswa dari AFS, yakni sebuah lembaga bina antarbudaya. Husein termasuk yang mendapat fasilitas dari bagian pertukaran pelajar atau Youth Exchange Student (YES). Husein, berangkat persis ketika baru menginjak bangku awal kelas XII tahun ajaran 2006-2007 lalu. Sekitar bulan Agustus, 2006. Husein berangkat dengan 98 pelajar seIndonesia. Di sana, remaja kelahiran Bangii, 20 No¬vember 18 tahun silam ini mendapat tempat di Brockway, Pennsylvania. Sebuah kota kecil, yang luasnya tidak jauh beda dengan Kabupaten Pasuruan. Selama di Brockway, Husein tinggal di ho¬me stay, dengan keluarga Serafini. Ayah angkatnya ini, berkewarnegaraan USA, tapi ke-turunan Itali. Mereka sekeluarga sangat me-nyayangi Husein. "Bapak (Serafini), dan ibu angkat saya (MeUsa Serafini) memperlakukan saya seperti anaknya sendiri," aku Husein. Rasa sayang mereka kepada Husein, di-tunjukkan dengan memberikan perlakuan Sa-ma seperti Derek Morgan, 12, dan Taylor Serafini, 6, kedua anak mereka. Bahkan Husein juga akrab seperti kakak adik, dengan kedua saudara angkatnya itu.Kemahiran Husein dalam berbahasa Inggris, membuat mereka mudah sekali akrab. Suka Jika Diberi Kesempatan Kedua Belajar di Amerika "Kalau di Amerika kan bahasa Inggrisnya lebih mudah. Lebih cenderung bahasa gaul, jadi tidak perlu bingung dengan grammar (tata bahasa), seperti ketika berbicara dengan orang Inggris asli," akunya lugas.Dia juga tidak kesulitan keti¬ka harus beradaptasi dengan pelajarannya di Area Junior and Senior High School di tempat tinggalnya itu. Di sana, bersama peserta exchange stu¬dent dari berbagai belahan du-nia, Husein dihadapkan de¬ngan pola pendidikan ala mahasiswa. Setiap siswa di tempat dia sekolah, mendapat kebebasan memilih pelajaran sesuai kein-ginan (di Indonesia sama dengan sistem SKS). Ketika itu, dia yang memang masuk jurusan IPA di SMAN I Bangil lebih memilih kelas calculus (matematika), Fisika, dan web design. Tapi, selain itu masih ada tiga pelajaran wajib yang tidak boleh terlewat. "Namanya wajib, mau nggak mau harus diikuti kelasnya. Antara lain American Government, American History, dan Economic," urainya. Ketika mengisahkan pengalamannya setahun di Amerika, Husein sempat mendapat pujian dari salah satu gurunya. Dia adalah M. Muslikh, yang juga menjadi Wakasek bidang Kurikulum di SMAN I Bangil. "Dia ini anaknya pinter kalau suruh ngomong bahasa Inggris," kata Muslikh.Di mata Mukhlis, kepandaian Husein berbahasa Inggris diakui di sekolah. Bahkan ketika masih duduk di bangku SMPN 2 Bangil, Husein pernah meraih juara I dalam lomba pidato Bahasa Inggris seKabupaten Pasuruan. Selama di Amerika, Husein mengamati hal-hal yang dia rasa unik dan tak lazim. "Pertama soal nasionalisme," katanya memberi contoh, Dia me-rasa warga Amerika sangat menghargai simbol-simbol kenegaraan. Misalnya, ketika di sekolah ada upacara dengan pengibaran bendera. Maka semua warga, bahkan yang sedang berken-daraan harus berhenti. Mem-buka pintu mobil, dan memberi hormat.Begitu juga ketika sedang mendengarkan lagu kebangsa-an. "Pernah saya dimarahi habis-habisan sama teman-teman asli sana, saat saya minta saluran TV diganti," kenangnya.Husein mengusulkan peng-gantian itu karena di layar TV, sedang memperlihatkan acara olahraga yang memperdengar-kan lagu kebangsaan. Di Indo¬nesia mungkin biasa. Tapi di Amerika, itu sebuah larangan besar. Pelakunya bisa dicap tidak menghargai bangsanya. Hal lain yang dianggap unik oleh Husein ialah bagaimana orang tua angkatnya memberi-nya nama khusus. Di home stay dan di sekolah, dia punya nama singkat "Q". Ayah angkatnya, Serafini, memilih panggilan itu karena tidak ingin Husen dicap keluarga teroris. "Di sana kan sangat sensitif sama nama-nama yang berbau Timur Tengah. Mereka menyetarakan dengan Saddam Husein, atau Osama Bin Laden," terangnya. Awalnya, nama Husein akhir-nya diganti dengan nama Qoumy. Tapi, lidah Amerika susah melafalkannya. Sehingga me¬reka memilih hanya memang-gilnya dengan "Q" saja. Hampir 12 bulan di Amerika, Husein mengaku betah. Bah¬kan dia tidak keberatan jika diberi kesempatan kedua bela¬jar ke sana. Apalagi menurut-nya, pelajaran di kelas yang sa¬ma (kelas XII) lebih mudah jika dibandingkan dengan di Indonesia. Di Brockway, dia masuk di kelas XII juga. Belajar tentang ilmu Matematika, atau Fisika di sana, kalau di Indonesia sama dengan kelas X, atau XI. "Jadi kelihatannya lebih pinter dibanding teman-teman yang lain. Padahal, cuma karena kita sudah pernah diajari. Itu saja," jelasnya. (*)

kirim ke teman | versi cetak

Share |

Berita "Berita Terkini" Lainnya

Logo