Oleh: Irodatul Hasanah

Masih dalam sisa-sisa renungan pagi
Cerita dahulu kembali terkorek tanpa permisi
Diiringi tangan-tangan lembut yang kembali menutup topeng manipulasi
Antah berantah sungguh ini ayal!
Semua tuduhan mereka tuding atas saksi, berhenti…

Bumi manusia yang berbicara
Pagi buta wanita tua menelitik di sudut kota
Berceloteh ria tanpa berhenti mengucap kata
Matanya sayu, tubuhnya tiada lagi dapat menahan beban di kepala

Kiranya siapkah mereka mengadu
Negeri ini tak lagi sama seperti dulu
Ada sejuta harap dalam dua ribu dua puluh satu
Kenanglah ini dalam sejarah awak media berseteru
Bala tentara tak lagi mau berlalu, ia singgah dan menetap melacak satu persatu

Usahakan yang terbaik bagi negeri
Kita hanya penghuni yang kapan saja bisa mati
Kenanglah duka yang melanda hari ini
Nak, tak apalah kaumengikat perut sejenak karena baiknya kita lalui
Derita, masih sama sudah terlalu lama berpangku dalam ibu pertiwi

Bumi manusia yang berbicara
Keringatnya melepuh di pelipis kepala
Bersandar pada kursi kayu tiada mau menabur duka
Setiap hari jiwa-jiwa tak berdosa harus pergi menuju Sang Pencipta
Awak media yang haus kabar berita
Covid-19, begitulah namanya mencuat mengembara

Sanggupkah kau mengembannya sendiri?
Satu lagi jarak kau sisihkan sedang uang kauhamburkan, Tuan!
Sampai kapan rakyat kautuding pecundang!
Sampai kapan bala tentara ini kau manipulasi begitu dalam!
Sudah mengakar, sudah mendarah daging.
Aku tak sanggup bercerita panjang lebar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *